Inilah Firasat Kembaran Ifan Seventeen Yang Kini Jadi Kenyataan, Sedih Banget!

Riefian Fajarsyah atau yang sering dikenal sebagai Ifan Seventeenmenjadi salah satu korban selamat dari tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung Selatan beberapa waktu lalu.

Sponsored Ad

Sayang, istri dan rekan-rekannya dalam Band Seventeen tidak bisa diselamatkan dari bencana tsunami itu.

Tidak hanya Ifan, saudara kembarnya yang bernama Riedhan Fajarsyah pun selamat dari tsunami yang terjadi.

Sebelum tsunami terjadi, ternyata Riedhan memiliki firasat akan terjadi sebuah bencana tsunami di tempatnya saat itu.

Mulanya, saat itu, Riedhan membuka aplikasi Waze untuk melihat keberadannya.

Setelah mengetahui keberadaanya di daerah tepi Selat Sunda, tiba-tiba ia berpikir jika nanti ada tsunami berarti nama bencananya yaitu Tsunami Selat Sunda.

Sponsored Ad

"Saya buka (aplikasi) Waze, saya lihat itu saya di ujung pulau, di atasnya ada tulisan Selat Sunda. Saya sempat terpikir 'Oh, kalau tsunami, berarti tsunami Selat Sunda," ungkap Riedhan 

Ia tidak menyadari mengapa ketika mengetahui posisinya saat itu ia langsung terpikirkan akan tsunami.

Setelah itu, Riedhan melamun dan berpikir jika benar terjadi tsunami, apa yang akan ia lakukan.

"Pikiran saya waktu itu saya ngelihat ke laut, kalau ada tsunami terus saya ngelihat ke belakang, anak saya gendong, istri saya pegang, saya lari ke jalur sini, sini, sini," tutur Riedhan.

Sponsored Ad

Ia juga memikirkan bagaimana nasib saudara kembarnya Ifan dan istrinya jika tsunami yang ada dalam pikirannya benar-benar terjadi.

Cukup lama terdiam, sang istri pun mmebangunkan lamunan Riedhan.

"Tapi habis itu itu saya mikir Ifan gimana, Dylan gimana, adik-adik gua sama anaknya gimana. Enggak lama, saya langsung ditegur sama istri saya gara-gara melamun. 15 menit habis (ditegur) itu, baru kejadian," tambahnya.

Sponsored Ad

Tidak diduga, apa yang dibayangkannya terjadi dan tsunami membuat sebagian besar anggota Seventeen meninggal dunia kecuali Ifan Seventeen.

Sponsored Ad

Sejak Rabu (26/12/2018) pukul 13.00 WIB tercatat 430 korban meninggal dunia.

Rinciannya, ada 290 koran meninggal dunia di Kabupaten Pandeglang, 113 Lampung Selatan dan 25 korban meninggal dari Serang.

Adapun, korban luka-luka tercatat terdapat 1.495, 159 orang hilang, dan 21.991 orang mengungsi.

Terkait kerusakan infrastruktur, data BNPB mengungkapkan, 924 rumah rusak, 73 penginapan rusak, 60 warung rusak, 1 dermaga dan 1 tempat berlindung atau shelter rusak. 

Sumber : Nakita

VIDEO REKOMENDASI :

Kamu Mungkin Suka