Ingat Nenek yang Pegangan Ke Pohon Ketika Terendam Air? Cerita Dibaliknya, Sukses Bikin Netizen Menangis Haru

Nenek yang viral saat menyelamatkan cucunya dari derasnya arus banjir di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) dengan cara berpegang pada pohon meski akhirnya meninggal dunia tetap dikenang sebagai nenek dan orangtua yang tangguh dalam menjalani hidup.

Sponsored Ad

Di mata keluarga, ia adalah orangtua tunggal selama puluhan tahun membesarkan anak-anaknya meski harus banting tulang hingga dua anaknya berhasil menjadi dokter.

Berikut sejumlah fakta nenek yang viral menyelamatkan cucunya saat banjir bandang melanda Gowa, berdasarkan keterangan anak dan menantu korban kepada Kompas.com.

1. Selamat setelah memeluk pohon jati putih selama 3 jam

Nurjannah Djalil (70) wanita kelahiran Mei 1963 menjadi viral di media sosial saat menyelamatkan cucu semata wayangnya, Waliziab Muhammad Nur (2) saat bencana banjir pada Selasa, (22/1/2019) melanda perumahan BTN Zigma Royal Part, Kelurahan Pangkabinanga, Kecamatan Pallangga. Dirinya sempat selamat setelah bertahan dengan berpegangan pada pohon jati putih selama tiga jam.

Sponsored Ad

2. Meninggal akibat serangan jantung dan telan air kotor

Meski demikian, keesokan harinya, Rabu, (23/1/2019), Nurjannah harus kembali dilarikan ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Syech Yusuf Sungguminasa dan dinyatakan meninggal dunia dengan diagnosis serangan jantung dan terlalu banyak menelan air kotor.

Sponsored Ad

"Dari hasil diagnosa dokter terkena serangan jantung dan terlalu banyak menelan air kotor" kata Muhlis, Humas RSDUD Syech Yusuf yang dikonfirmasi Kompas.com.

3. Puluhan tahun jadi orangtua tunggal untuk 4 putrinya

Nurjannah sendiri memiliki empat orang putri masing-masing bernama Zarah Fani Alizulhijjah (29), Indah (27) dan Adinda Afiandri (25) serta Ananda Dina Alginah (23).

Nurjannah adalah sosok orangtua tunggal pascaperceraian dengan suaminya, Rauddin (72) yang kini menetap di Malang, Jawa Timur sejak putri sulungnya masih berusia 7 tahun.

Sponsored Ad

Sejak saat itu Nurjannah menjadi sosok orangtua tunggal mengasuh dan banting tulang mencari nafkah demi membesarkan dan menyekolahkan keempat putrinya.

"Beliau adalah sosok orangtua kami dimana dengan segala keterbatasan tetap menyekolahkan anak-anaknya meski harus berutang kiri kanan" kata Nurfadiansyah (30) kepada Kompas.com pada Senin, (28/1/2019).

Sponsored Ad

4. Nurjannah berhasil mendidik dua anaknya jadi dokter

Alhasil meski harus banting tulang membesarkan dan mendidik keempat putrinya, jerih payahnya pun membuahkan hasil. Dua orang putrinya kini telah bergelar dokter.

Sedangkan dua anak lainnya masih berstatus mahasiswi di perguruan tinggi negeri dan swasta di Makassar

"Saya bisa menjadi dokter karena perjuangan ibu saya yang terus memberikan semangat walau pun kami tahu bahwa biaya pendidikan yang diberikan kepada kami sebagian adalah utang," kata Zarah Fani Alizulhijjah, anak sulung korban.

Sponsored Ad

5. Pernah jadi reporter TVRI Ujung Pandang

Nurjannah diketahui pernah menjadi reporter TVRI Ujung Pandang sebelum akhirnya memilih untuk pulang mengabdi ke kampung halaman.

Hingga maut merenggut jiwanya, Nurjannah masih menjabat sebagai Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini (Kabid Paud) Dinas Pendidikan Kota Palopo.

Seperti diketahui, bencana longsor di sejumlah titik yang memicu dibukanya pintu air bendungan Bili-bili yang mengakibatkan air sungai Jeneberang meluap.

Sponsored Ad

Meluapnya sungai Jeneberang menenggelamkan sejumlah pemukiman penduduk di Kabupaten Gowa, Kabupaten Maros, Kota Makassar, Kabupaten Takalar dan Kabupaten Jeneponto pada Selasa, (22/1/2019) lalu,

Bencana tersebut telah memakan puluhan korban jiwa. Di Kabupaten Gowa sendiri total korban jiwa akibat bencana ini telah mencapai 46 korban.


Sumber : Intisari